Backpackeran Abal Abal ke Jogjakarta

Jogja adalah tempat yang romantis, setidaknya begitu yang dikatakan oleh banyak orang. Saya setuju, walau tidak merasakan romantisme saat berada di Kota Pelajar ini. Hiks…

Sudah cukup lama saya memilki keinginan untuk berkunjung ke kota ini. Banyak sebab, mulai dari cerita mamahku tentang Jogja saat ia mengunjunginya ketika masih muda, obsesi melihat langsung bangunan yang masuk kedalam 7 Keajaiban Dunia, dan “balas dendam” atas ketidak ikut sertaan study tour ke Jogja 7 tahun silam saat masih duduk di bangku sekolah, sedih diceritain mah.

Hari Pertama

Pukul 18:00 di hari Jum’at bulan Agustus 2017, saya bisa membalasakn dendam itu dengan menginjakan kaki di Stasiun Lempuyangan, DIY untuk pertama kalinya. Ingin sujud sukur tetapi saya rasa itu akan sangat berlebihan…

Setelah perjalanan yang membosankan selama  5 jam menggunakan kereta api yang berangkat dari Kediri. Saya keluar dari stasiun dan berjalan menuju penginapan yang telah saya pesan sebelumnya melalui aplikasi booking online dengan option “harga super rendah banget”. Menurut Google Maps jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3KM dari Stasiun Lempuyangan. Memang dekat, tetapi cukup sulit untuk menemukan penginapan ini, karena masuk kedalam gang dan masuk kedalam gang lagi.

Setelah sampai di penginapan Jogja Backpackers House, langsung membersihkan diri dengan mandi besar. Ya, mandi besar karena 2 hari saya belum mandi, jadi saya sebut saja sebagai mandi besar. Lalu bergegas menuju Jalan Malioboro, bermodalkan Google Maps saya menyusuri jalanan Jogja yang ternyata huh sangat padat ternyata pemirsah. Mungkin jalan yang saya lalui adalah pusat kota, jadi ya begitulah. Setelah berjalan 15 menit sampai juga di Malioboro, Sial! Ternyata dikerjain oleh Google Maps, harusnya bisa sampai dengan 10 menit saja, Google Maps malah membawa saya memutari jalan yang lebih jauh.

Jalan Malioboro sangat ramai, penuh sesak oleh para pejalan kaki dan kendaraan bermotor, tidak sesuai ekspetasi sih, tetapi saya tetap menyukainya dan menikmatinya. Tidak banyak yang saya lakukan disini selain mengambil foto aktivitas para orang-orang yang berlalu lalang menikmati setiap sudut jalan dengan caranya masing-masing. 

jalan malioboro
Pengamen di Jalan Malioboro




Melanjutkan perjalanan menuju Tugu Jogja. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai kesana dengan berjalan kaki, kamu hanya perlu jalan lurus menuju utara dari Malioboro. Nampaknya Tugu Jogja terletak ditengah-tengah jalan, orang banten menyebutnya persimpangan,  letaknya yang ditengah jalan membuatnya dilewati oleh banyak kendaraan.

Ada yang benar-benar merasakan sensasi romantisme kota ini dengan pasangannya, bersendagurau dengan teman-temannya, atau sekedar duduk-duduk dipinggir jalan melihat orang-orang yang berlalu lalang seraya menikmati malam, seperti saya.  Tua-muda, laki-laki perempuan, sendirian atau beramai-ramai, turis lokal ataupun mancanegara, semuanya terhanyut menikmati suasana malam di Jogjakarta. 


backpacker jogjakarta
Tugu Jogja


Perut keroncongan, membawa saya untuk mampir ke sebuah  warung angkringan yang bayak ditemui di pinggrir jalan, ada beragam menu yang di sajikan, ada sate ayam, sate keong, sate jeroan, sate kuda dan ternayata ada sate babi juga, tertarik ingin nyoba tapi takut dosa, yaudah sate anjing ajalah.





Jam menunjukan pukul 23:00, sudah waktunya kembali ke penginapan, karena pagi harinya saya berencana pergi menuju ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan.



Biaya di Hari Pertama

Tiket KA, Kediri - Lempyangan
Rp. 91.500
Penginapan
Rp. 58.000
Malioboro
Gratis
Tugu Jogja
Gratis
Makan Angkringan
Rp. 22.000
Jumlah
Rp. 172.500




Hari Ke-Dua

Berangkat dari penginapan menuju Candi Borobudur yang terletak di Magelang menggunakan motor yang saya sewa dari tempat menginap, dan bermodalkan Google Maps lagi sebagai penunjuk arah. Pukul 05:00 sudah tancap gas menuju Magelang karena ingin mengejar sunrise di Candi, berharap mendapatkan foto yang memorable dan terkenal keseluruh penjuru dunia HaHaHa. Perhitungan saya salah, perjalanan sebenarnya memakan waktu selama dua jam, itupun saya harus bulak balik mencari tempat parkiran, rencanapun gagal.

Ternyata sepeda motor tidak diperkenankan masuk kedalam kawasan Candi, harus diparkirkan di tempat parkir yang telah disediakan warga yang terletak di luar kawasan. Lanjut masuk kedalam dan menuju loket untuk membeli tiket, juga barang bawaan akan diperiksa sebelum check-in menuju Candi, drone adalah salah satu barang yang tidak boleh dibawa masuk, berhubung saya tidak membawa drone dan tidak punya juga, jadi saya diperbolehkan masuk.

Dari pintu masuk menuju pelataran Candi, jaraknya cukup membuat kakimu sedikit pegal, di dalam kawasan ini sangat luas, ada restoran, tempat pemutaran film dokumenter, dan museum candi, setidaknya itu yang saya liat. Semakin dekat dengan Candi, terdapat payung berwarna-warni yang menggantung diatas, Instagramable!


payung candi borobudur


Karena masih pagi sekitar pukul jam 07;40, di area candi tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Megah, damai, dan panas, kesan pertama yang saya rasakan. Cukup gersang disini walau terbilang masih pagi hari. Terlepas dari panasnya matahari yang menyengat, bangunan Candi dan relief-reliefnya sangat keren dan bermuatan cerita bersejarah, tidak mengherankan kalau Candi Borobudur pernah masuk kedalam 7 Keajaiban Dunia. Dari puncak tertinggi candi, kita bisa melihat pemandangan sekitar candi yang di kelilingi oleh perbukitan, Candi Borobudur ini terletak di tengah- tengah perbukitan. Selama perjalanan menuju ke sini pun kanan kiri jalan adalah persawahan dan perbukitan.

Setelah puas melihat-lihat dan mengambil gambar yang diperlukan, saya turun kebawah menuju pintu keluar, banyak penjual souvenir sibuk menjajakan dagangannya. Di sebelah kiri sebelum pintu masuk terdapat Museum Candi Borobudur, karena tertarik sayapun masuk kedalam, di dalamnya memuat tentang sejarah penemuan candi saat masa pendudukan belanda, dan perkembangannya hingga saat sekarang, juga terdapat bagian-bagian candi yang terlepas dari bangunan utama, seperti Kepala Patung Buddha dan batuan-batuan yang jumlahnya sangat banyak, dan yang paling menarik adalah cerita bagaimana bangunan Candi tetap dapat bertahan berabad-abad dan selamat melewati berbagai bencana yang menimpa, seperti gempa bumi dan gunung meletus.


candi borobudur


pembersihan candi borobudur
Seorang petugas kebersihan sedang membersihkan Candi Borobudur.
Borobudur Photography


Perjalanan dilanjutkan  menuju Candi Prambanan, sebelumnya saya kira letaknya berdekatan dengan Candi Borobudur. Candi Prambanan terletak di Klaten, dan perjalanan memakan waktu selama 2 jam dari Magelang. Jalanan Jogja ramai, terlebih di dalam kota sangat macet, mungkin karena hari minggu.

Sesampainya di Candi Prambanan, ada gladiresik untuk persiapan Prambanan Jazz Festival, saya melihat mas Pongky Barata sedang melantunkan lagu Selamat Malam Dunia dari band Jikustik. Walau gak bisa menonton langsung Prambanan Jazz Festival, nonton gladiresiknya juga gak apa deh, sepertinya pengunjung yang lain pun berfikir demikian. Terbuki banyak pengunjung yang maju kedepan panggung sambil berjingkrak-jingkrak.


prambanan jazz festival
Pongky Barata

Menurut saya pribadi, Candi Prambanan lebih indah dalam hal arsitektur bangunannya dibanding Borobudur. Candi Prambanan adalah Candi Hindu yang juga Candi Hindu terbesar di dunia. Kamu pasti pernah mendengar legenda tentang pembuatan Candi Prambanan dong tentunya?


Prambanan Photography


candi prambanan photography


Candi Prambanan


Mengelilingi setiap sudut bangunan candi, dan masuk kedalam ruangan yang cukup horror kalau kamu masuk sendirian pada malam hari, tapi candi prambanan ditutup sampai jam 6 sore aja sih.

Patung Roro Jonggrang yang berada di bagian dalam bangunana candi utama

prambanan temple photography


prambanan temple photography


Tempat ini sangat cocok untuk menikmati sunset, apalagi jika bersama pasangan. Karena saya tidak punya dan tidak bawa pasangan, yaudahlah saya motion orang pacaran saja…


Prambanan Temple Sunset



Ketika ingin pulang, terjadi sebuah drama, yaitu kunci motor hilang, dicari kesana kemari tidak ketemu, bertanya kepada security tidak membantu, pasrah mau puang saja pakai bus dan ambil kunci cadangan di penginapan, fak!
Pas mau pulang, dicegat sama tukang parkiran, ternyata kuncinya ada sama dia, kuncinya masih menggantung dimotor ketika saya meninggalkannya, slamat!

Hari sudah mulai gelap, langsung bergegas menuju penginapan karena ada janji dengan teman untuk kopdar di angkringan Lik Man. Menurut info dari internet sih, konon katanya sakitnya karena diguna-guna  angkringan ini adalah yang pertama menghadirkan Kopi Jos, yaitu kopi yang dicampur oleh bara arang yang menyala, katanya sih mengandung banyak khasiat.

Suasana yang angkringan ramah, makanan yang enak, obrolan santai dengan kawan, dan ditambah lagi alunan musik pengamen yang menyanyikan lagu legendaris Ngayogyakarta yang dipopulerkan oleh KLA Project, momen inilah salah satu yang membuat saya rindu tentang bagaimana suasana  Jogjakarta.

Bagi kamu yang ingin ke Angkringan Lik Man, tempatnya tidak terlalu jauh dari Stasiun Tugu.


angkringan lik man
Angkringan Lik Man



Kopi Jos
Kopi Jos



Setelah selesai, kemudian saya menuju ke Alun-alun Kidul. Menghabiskan malam terakhir di Jogja, karena esok harinya saya harus sudah pulang kembali kerumah. Saya rasa tempat ini adalah tempat yang hmm… lebih enak jika berkunjung tidak sendirian.

Coba bayangkan kalau kamu mencoba ikutan melewati pohon beringin challenge, menutup matamu sendiri , tidak ada yang mengawasi arahmu berjalan, dan ketika kamu membuka mata, secara mengejutkan kamu berada di alam barzah?

Dan juga kalau kamu menyewa kendaraan yang bling-bling itu, yang bisa di isi oleh 4 orang atau lebih, sementara kamu mengendarainya hanya sendirian, menggowesnya sendirian, dan kemalanganmu itu diliat oleh banyak orang, menyedihkan. :(


alun alun kidul jogja






Biaya hari Ke-2
Candi Borobudur
Rp. 40.000
Sarapan Bubur Jogja
Rp. 4.000
Parkir Motor Borobudur
Rp. 5.000
Candi Prambanan
Rp. 40.000
Parkir Motor Prambanan
Rp. 3.000
Makan Malam di Angkringan & Kopi Jos
Rp. 24.000
Parkir Motor Alun-alun
Rp. 5.000
Sewa Motor 24 Jam
Rp. 70.000
Bensin
Rp. 30.000
Penginapan Hari Ke-2
Rp. 58.000
Jumlah
Rp. 279.000

Note:
1. Bawalah bekal minuman dari tempat kamu menginap, jadi tidak perlu membeli minum lagi.

2. Sebaiknya beli tiket Candi Prambanan dan Borobudur sekaligus jika kamu pasti akan mengunjunginya dihari yang sama, harga tiketnya -,Rp. 70.000. Kamu bisa menghemat Rp. 10.000.


Baca Cerita Bagian Selanjutnya di Backpackeran Abal-abal ke Jogjakarta, dan Keluh Kesah Turis Asing Tentang Wisata Indonesia

Komentar

Postingan Populer