Backpackeran Abal-abal Ke Jogjakarta, dan Sedikit Keluh Kesah Turis Asing Tentang Indonesia

Cerita ini adalah lanjutan dari artikel Backpackeran Abal-abal ke Jogjakarta



Hari ke-tiga sekaligus hari terakhir di Jogja, saya mengunjungi obyek wisata kota yaitu Benteng Vredeburg, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Taman Sari. Ketiga tempat ini letaknya tidak saling berjauhan, kamu hanya perlu berjalan lurus saja menuju selatan dari Jalan Malioboro. Cobalah mengunjungi tempat-tempat tersebut dengan berjalan kaki, maka kamu akan menemukan sebuah kenikmatan tersendiri.

Aktifitas di Jalan Malioboro pada pagi hari itu relative masih sepi, baik oleh kendaraan atau pejalan kaki, saya ambil kesempatan ini untuk berfoto ria di depan plang jalan Malioboro, sebagai pengukuhan saja haha. Kan katanya tidak lengkap jika ke Jogja tanpa berfoto di depan jalan Malioboro?


jalan malioboro




Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Benteng Vredeburg, yang saat ini difungsikan sebagai musem sejarah, untuk masuk kedalam tidak dikenakan biaya alias GRATIS, karena pada saat saya berkunjung museum ini sedang bersolek untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Didalam museum memuat banyak kisah sejarah, khususnya peristiwa-peristiwa bersejarah bangsa Indonesia yang terjadi di tanah Jogjakarta.






Setelah mabuk sejarah di dalam museum, perjalanan dilanjutkan menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, saya ingin sekali melihat pertunjukan-pertunjukan yang biasa di pentaskan di dalam keraton. Berputar kesana-kemari, liat kiri kanan atas bawah, dan membuka setiap pintu mencari panggung pentas, tetapi tidak kunjung jua diketemukan, saya  hanya mendengar suara bunyi-bunyian seperti gamelan. 



Suasana pagi hari di sekitaran Keraton.


Eh ternyata kalau tempat pertunjukan itu berbeda tempat, yaitu di Di Pendopo Sri Manganti, yang  terletak di dalam  Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Ketika saya sampai kesana, pertunjukan telah selesai. J


   Jadwal Pertunjukan

   Senin    :  Karawitan (Gamelan)

    Selasa   :  Karawitan (Gamelan)
    Rabu     :  Wayang Golek
    Kamis   :  Tari Klasik
    Jum'at   :  Seni Macapat (Javanese Poetry Recital), jam: 09.00 – 11.00 WIB
    Sabtu    :  Wayang Kulit, jam: 09.30 – 13.00 WIB
    Minggu :  Wayang Orang, jam: 9:30 – 13.00 WIB

Hari semakin siang, sengat sinar matahari yang semakin menjadi-jadi tidak menghalangi niat saya untuk menuju Taman Sari dengan berjalan kaki. Dari Keraton jaraknya 2,4 km yang dapat ditempuh selama 20 menit dengan berjalan kaki, kalau berlari sekitar 15 menitan lah…

Ditengah jalan saat bingung mencari lokasi Sumur Gemuling yang masih satu area dengan Taman Sari, saya bertemu dengan seorang turis wanita yang juga terlihat kebingungan. Lalu saya hampiri dia

“do you want to go to this place?” tanyaku sambil menjulurkan handphone yang menunjukan peta menuju sumur gemuling
“yaa, you?”

“yes me too, would you like if we going together?” dengan bahasa inggris yang acak-acakan

“okay” jawabnya manja

Cukup sulit menemukan lokasi ini dengan Google Maps, bertanya pada warga sekitar pun masih tetap membingungkan, saya sendiri sudah mengitari area Taman Sari sebanyak dua kali sebelum bertemu dengan Fanya, turis asal Spanyol yang sudah Travelling selama 1 tahun menurut pengakuannya. Berjalan dengan bule membuat saya seperti tour guidenya saja…

Melihat saya dan Fanya kebingungan, seorang mamang pentol memanggil kami untuk memberi petunjuk lokasi Sumur Gemuling

“itu mas tadi kelewat, ntar lewat gerbang itu trs belok ke kiri lurus aja” ujarnya sambil mengarahkan arah menggunakan tangannya yang berlemak

“oh kelewat ya pak” jawab saya

“iya mas, tapi beli tiket dulu di loket, dah nih saya punya tiket buat temen bulenya, pake aja buat temen bulenya, gratis” sambil membuka panci dagangan pentolnya, kode supaya saya membeli dagangannya, tetapi tidak saya beli.

“wah bener nih pak? Makasih loh ini pak”






Setelah menerima tiket pemberian mamang pentol, saya punya perasaan yang enggak enak tentang ini, karena saya melihat mamang ini tertawa-tawa dengan teman-temannya saat memberikan tiket. 

Hal ini saya sampaikan kepada teman baru saya ini

“I think they are making joke about us”

“why you think if they making jokes of us” tanyanya bingung sambil tersenyum manis, unchh.

“I’m not sure, but I think they are”


Ketemu juga nih tempat yang dicari-cari, akhirnya aku akan bisa berfoto-foto dan menguploadnya di Instagram disertai caption-caption bijak!!! Berjalan beberapa langkah menuruni tangga, penjaga loket memanggil kami, katanya kalau tiket turis asing itu berbeda, juga tanggal pada tiket sudah beberapa hari yang lalu. Saya pun bertanya pada Fanya, apa bahasa Spanyol-nya “SETAN?”!!! 

Yasudahlah, kamipun kembali lagi untuk membeli tiket untuk Fanya, karena tiket yang saya punya tidak bermasalah. Rasa kesal membuncah gundah gulana kerana dikerjai oleh mamang pentol, dari sini saya sadar bahwa tidak selamanya mamang pentol itu baik.

Saat memasuki Sumur Gemuling, Fanya seperti terkejoed dan terperangah…

“Waaahh…” ucapnya dibarengi senyuman yang mengembang saat melihat barisan tangga di tengah-tengah dalam bangunan

“did you ever see this place before?” tanyaku

“yes, this place is very nice, I like it, take picture pleaseee….. 


taman sari jogja






Sumur Gemuling ternyata adalah sebuah Masjid Bawah Tanah, Cukup unik sih mengingat letaknya yang kurang lazim dan bangunannya yang lebih terlihat sebuah benteng pertahanan.








Jam menunjukan pukl 15:15, saya harus segera kembali ke penginapan. Ketika saya menuju keluar, sepertinya teman baru saya ini kebingungan ingin melanjutkan tujuan kemana. Saya sarankan untuk mengunjungi Keraton Ngayogyakarta, lantas ia pun mengikuti saya.

“ So, you like to walk?” Tanyaku membuka percakapan

“Yes, I like, because to save my money”

“HAHA me too. Have you ever visited Borobudur Temple?”

“Yes already this morning, you?”

“Yesterday. How about that place?”

“I think it’s good, but too expensive for me”

“ Oh ya I know. So you will not visit Prambanan?”

“Haha yes  honey, too expensive and i don’t have money”

Memang perbedaan tiket turis lokal dengan tiket turis asing bisa sampai 5x lipat.

“I think Prambanan Temple is more beautiful than Borobudur”

“Yeah I think so. You know, most tourist attraction in Euorpe are free.” Jawabnya seperti berkeluh kesah

 “Ilyas, where you came from?” Imbuhnya

“I’m from Banten, you know?

“Of course, because before Jogja, I have visited Sumatra that is in Bukittinggi, Padang, and Lampung.”

“Wow, you’re truly traveler!”

“I have been traveling for 1 year, just alone”

Kampfreit, mujur bener nih cewek, udah keliling dunia selama satu tahun.
Berjalan kaki di cuaca yang terik walau sudah sore hari, membuat kami haus, lalu berhenti untuk membeli minum  di warung pinggir jalan.

“You want?” tanyanya sambil menawarkan aqua botol berukuran besar

“No, thanks. I have one.”

“When i buy something here, it seems the price is a bit more expensive.”

“Oh ya?, so how much do you pay to buy that drink?”

“5000 Rupiah”

“That’s normal price”

“Really? that’s good.” sepertinya dia bersyukur akan hal itu

“I think you must visit Parangtritis BEACH, it’s a romantic place.”

“What are you talking about???” dengan nada yang sedikit sinis

“I’m sorry, I mean beach, sea. Pardon my pronunciation.”

Emang susah sih bilang Beach dengan Bitch haha

“Oh I see, why that place is a romantic place?” tanyanya sambil tersenyum

“Idk, but I think you must visited that Parangtritis place”

“Hmm okay, maybe tomorrow. Have you visited that place?”

“No, i don’t have time. Because this afternoon i will be return to my hometown.”


Sesampainya di Keraton kami pun berpisah, karena saya harus menuju Stasiun Lempuyangan untuk pulang menggunakan kereta pukul 17:00. Sungguh sebuah jalan kaki sepanjang 2,4 km yang amat sangat menyenangkan, bisa berbagi cerita dan pengalaman dengan orang asing yang baru ditemui yang kemudian menjadi teman dalam perjalanan. Seandainya saja jika saya tidak pulang sore itu, mungkin besoknya saya dan teman baru saya ini akan mengelilingi Jogja bersama, mengunjungi Pantai Parangtritis di sore hari, dan malamnya akan dinner di Angkringan, dan larut malamnya akan……… ahsudahlah, sial kenapa saya harus pulang pada hari itu!


Jogjakarta memberikan banyak pengalaman bagi saya, suasana kotanya yang nyaman dan kental akan budaya, serta keramah tamahan warganya selalu bisa membuat saya rindu untuk kembali kesana.


Jogjakarta Never Ending Asia


Biaya Hari Ke-3

Sarapan Uduk Pak Mangunharjo Dwi Kusumo Martajowo
Rp. 7.000
Tiket Benteng Vredeburg
Gratis
Tiket Kraton & Kamera
Rp. 5.000 + Rp. 2.000
Tiket Taman Sari & Kamera
Rp. 5.000
Oleh-oleh Bakpia
Rp. 50.000
Roti dan Minum
Rp. 25.000
Kereta Api Lempuyangan – Ps. Senen
Rp. 111.500
Tiket KRL Ps. Senen - Rangkasbitung
Rp. 10.000
Kereta Api Rangkas - Cilegon
Rp. 3.000
Jumlah
Rp. 218.500


Komentar

Postingan Populer