Ke Bromo Cuma butuh 150rb saja lho!

Bromo adalah salah satu wisata unggulan di Jawa Timur. Gunung berapi aktif ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tenger Semeru. Daya tarik utamanya adalah sajian landscape yang sangat indah, apalagi jika dilihat saat matahari terbit, dan hal ini sudah terkenal sampai ke Mancanegara, terbukti dari banyaknya wisatawan asing yang datang.Selain itu juga ada Bukit Telletubies, Pasir Berbisik, dan Kawah Gunung Bromo yang tidak kalah menarik.

Berangkat dari Kediri saya menggunakan sepeda motor untuk menuju Bromo, karena setelah saya kalkulasikan dengan rumus pythagoras ternyata biayanya bisa lebih murah jika dibandingkan menggunakan travel. Sikatdah kalau murah!
Saya menggunakan sepeda motor sewaan, dan itu bukanlah perkara mudah menyewa sepeda motor saat akhir pekan di kampung inggris, karena bisa dipastikan akan habis tersewa, saya sendiri sampai 2 kali gagal ke bromo karena hal ini. 

Tetapi pada akhirnya bisa juga berangkat ke Bromo mengguakan sepeda motor sewaan, meski memang butuh perjuangan untuki mendapatkannya, kayak apaan aja....

Perjalanan Menuju Bromo

Sabtu, Kediri-Malang
Saya pergi bersama 4 orang teman dan 3 sepeda motor. Perajalanan dimulai pada pukul 21:00 dari Pare menuju Malang, menggunakan sepeda motor memakan waktu sekitar 2 jam, jalanan yang dilalui cukup ekstrim, berkelok-kelok  menanjak dan kiri kanan jurang serta minimnya lampu penerangan. Pukul 22:41 saya memasuki kota Malang, ini kali pertama saya ke kota malang, dan hal pertama yang saya katakan adalah Uwatise rek! dan yang kedua adalah Dingin banget! mampir terlebih dulu di kostan teman yang berada di sekitar Universitas Muhamadiyah Malang, untuk istirahat sejenak. 

Lalu pada pukul 24:00 melanjutkan perjalanan menuju arah Bromo lewat  jalur Probolinggo, jalanan di Kota Malang ini cukup ramai mungkin karena weekend. tetapi setelah memasuki daerah Probolinggo jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa jeep saja yang terlihat sedang mengangkut wisatawan. Motor kami menembus gelapnya jalan perkebunan Probolinggo, jaket 2 lapis tidak bisa menahan dinginnya malam itu, andai saja yang saya bonceng perempuan, saya akan minta di peluk agar hangat dan lebih bisa berkonsentrasi dalam berkendara, sayang yang saya bonceng sama batangnya :(

Jalanan yang kurang mulus dan terus menanjak, motor digeber agar sanggup sampai ke atas tanpa pernah tau ada apa di kanan kiri jalan, dan hal ini lah yang membuat kami bersyukur ketika pulang pada pagi harinya.

Minggu dini hari sekitar pukul 01:40 sampai di gerbang selamat datang, membeli tiket masuk terlebih dahulu sembari menghangatktan diri di depan api unggun yang disediakan, karna perjalanan selama 2 jam mengguakan motor membuat badan menggigil. Sebelum melanjutkan perjalanan saya sempat melihat papan pengumuman yang menghibau pengunjung agar berhati-hati dalam berkendara menuju  tempat ini, beserta gambar korban-korban kecelakannya, sepertinya jalanan ini memang rawan kecelakaan. Hati-hati ya bagi yang ingin kemari.

Kira-kira seperti inilah rute yang kami lalui:

  • Malang – Tongas (Probolinggo)
  • Tongas – Sukapura
  • Sukapura – Cemorolawang
  • Cemorolawang – Bromo

Jalanan Berpasir
Setelah melewati jalan yang menanjak, kamipun menghadapi tantangan lain, yaitu Jalanan Berpasir. rute ini yang paling memakan waktu, karna hanya menggunakan motor matic biasa, membuat kita harus terus menjaga keseimbangan ketika berkendara, sampai-sampai motornya bau seperti terbakar, sempat tersesat karna memang diantara kami semua belum pernah ada yang ke Bromo. Lalu ada seorang penduduk lokal yang menghampiri menawarkan jasa guide karna melihat kami kebingungan, tetapi kami tolak. Lantas kamipin hanya mengikuti mobil-mobil jeep yang berjalan dengan mulusnya diatas pasir yang menyusahkan ini. 
Pukul 03:10 sampai juga di POS  sebelum Pananjakan, sempat tidak yakin bahwa bisa keatas sana menggunakan motor matic, karna tanjakannya sangat curam dan sepengelihatan saya hanya dilalui oleh mobil jeep dan motor-motor ber cc besar. 


Tanjakan Suram nan Curam Pananjakan
Setelah diyakinkan penjaga warung sekitar bahwa motor yang kami gunakan bisa melewatinya, maka kamipun memberanikan diri untuk melewatinya. Tanjakan awal yang paling ekstrim dan rawan, untuk yang dibonceng harus turun terlebih dahulu agar motor sanggup menanjak, dan benar saja ada pengendara lain yang terjatuh dan hampir terjun bebas ke jurang, untungnya teman saya sigap dan berhasil memegang pengendara tersebut. 

Setelah melewati tanjakan ekstrim itu, jalanan sedikit lebih baik dan mulai landai, kemacetan jeep terjadi sepanjang jalan ini. Karena menggunakan sepeda motor, kami bisa meliuk-liuk meninggalkan wisatwan yang berada dalam jeep yang terjebak kemacetan hahaha...
Akhirnya ampai juga ke tempat parkir yang tertera didalam tiket masuk, sampai sini motor wisatawan harus di titipkan dan tidak diperkenankan menanjak sampai atas.


Pananjakan 1, Menuju View Sejuta Umat
Sampai di tempat memarkirkan motor sambil istirahat sebentar dan shalat shubuh terlebih dahulu, saya memesan mie dan teh panas yang menjadi dingin dalam sekejap, karna memang suhu di bromo sangat dingin, bisa sampai 0 derajat celcius.

Jam menunjukan pukul 05:00, menurut penuturan mbak penjaga warung, waktu yang tepat melihat sunrise adalah pukul lima tigapuluh atau jam enam kurang tigapuluh atau jam setengah enam!
Karna waktu tinggal 30 menit dan harus berjalan mendaki beberapa ratus meter lagi, saya dan teman-teman yang lain mengejar waktu agar tidak sampai melewatkan moment ini. Seorang teman yang sedang mendapatkan panggilan alam diperintahkan agar cepat-cepat menyelesaikannya, sampai-sampai teman saya yang lain harus menyebokinya agar cepat!

Berlari menuju atas, Tukang ojek menawarkan jasanya unuk mengantar sampai ke Pananjakan 1 dengan view sejuta umat yang terkenal dan ada dimana-mana itu. Semakin mendekati pananjakan harga jasanya pun semakin turun, tapi saya tidak pakai jasa tukang ojek tsb karna yakin bisa sampai tempat waktu sebelum sunrise tiba. Daaannnn..... beruntung masih bisa melihat sunrise, walau tidak maksimal karena spot-spot terbaik telah ditempati dan sangat ramai sekali disini! Sayapun bergegas mengeluarkan kamera, berharap bisa mendapatkan gambar yang memuaskan di tempat seramai ini

Pananjakan 2 bromo
Ramai!

Bapak-bapak dikanan: Masi gw liatin, ntar juga gw tampol nih bocah-bocah.



Sesampainya disini, kami semua berpencar untuk berburu gambar dengan kamera masing-masing, dan ternyata pada saat itu ada pertunjukan Terjun Payung oleh Paskhas TNI AU, dalam rangka latihan untuk Pertunjukan di hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus nanti.

Semua rasa lelah perjalanan menuju kemari terbayar lunas oleh indahnya pemandangan Bromo.
Saya pun dibuat takjub akan keindahan yang Tuhan berikn kepada tanah Indonesia.


Pemandangan Bromo
View Sejuta Umat



Aksi Terjun Pasukan TNI-AU
Dibelakang adalah Mahameru, Puncak para Dewa.

Cukup lama berdiam disini, menikmati setiap pemandangan yang disajikan, memanjakan mata akan Lukisan Tuhan. Indonesia memang indah, sangat-sangat indah. Mari kita rawat dan jaga bersama keindahan yang telah Tuhan berikan untuk Negeri kita tercinta ini.


Minggu, Pulang.

Setelah selesai, saya dan teman-teman kembali ke tempat memarkirkan motor. 
Dari yang tadinya tanjakan suram sekarang menjadi turuan curam. Beruntung semuanya masih bisa selamat sampai bawah, haha... dan tak lupa untuk berfoto-foto di jalanan pasir menyusahkan yang dilewati lewati tengah malam tadi.





By. Muflih



Sayang, tidak sempat mengunjungi Kawah Bromo Bukit Telletubies dan Pasir Berbisik, karena ada suatu alasan, sangat disayangkan sudah jauh-jauh kemari tetapi tidak mengunjungi semua wisata yang ada. Dan inilah yang membuat saya ingin kembali, selain karena terpesona dengan pemandangan yang luarbiasa menakjubkan. Bromo i will comeback!

Pada saat pulang melewati jalan yang setelah diketahui namanya adalah Cemoro Lawang, sebuah jalan yang saya lewati dengan menggeber motor tanpa perdulikan kanan kirinya terdapat apa, karna malam hari jadi tidak kelihatan, dan ternyata setelah siang hari dan bisa melihat, kiri kanannya adalah jurang  yang sangat tinggi! kami semua pun terkaget dan tersenyum bego setelah menyadari ketidak-berhati-hatian-ini, bersyukur tidak ada yang terjatuh.
Tetapi aseli deh, pemandangannya luar biasa!

Lihat jalan raya itu? jurang antara kebodohan dan keinginan untuk cepat sampai


Biaya

Jadi, berapa yang saya habiskan untuk bisa ke Bromo dari Kota Kediri?
Inilah rinciannya:

Sewa Motor: Rp. 80.000 : 2 = 40.000
Bensin        : Rp. 80.000 : 2 =  40.00
Tiket           : Rp. 32.500
Parkir         : Rp. 5.000
Makan 3x   : Rp. 30.000
Total          : Rp. 147.500

Murah banget kan? Mari kunjungi dan nikmati keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru!

Komentar

Postingan Populer